tradercantik.com – Di tengah gejolak perang dagang yang digencarkan oleh Amerika yang dipropagandakan untuk membuat America Great Again, Presiden Jokowi menyentak dunia dengan pidatonya di depan sidang pleno Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 di Bali. Dengan mengambil analogi dalam film seri Game of Thrones, Presiden Jokowi memaknai pertarungan negara elit dunia untuk menjadi nomor satu, malah akan menurunkan perekonomian dunia.

Saat ini, banyak negara berkembang yang mengalami penurunan ekonomi akibat perang dagang dan kebijakan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS. Dengan perekonomiannya yang cemerlang, suku bunga yang menaik, dan belanja negara yang ekspansif, membuat Amerika Serikat kembali menjadi daya tarik bagi para investor setelah krisis tahun 2008.

Perekonomian global tengah menuju kepada the new normal, sebuah situasi ekuilibrium baru dimana nilai tukar mata uang dunia akan menempati posisi baru. Hampir semua mata uang negara terdepresiasi nilai tukarnya terhadap USD, termasuk Indonesia. Apa yang terjadi?

Sebagai negara berkembang yang tengah melaksanakan pembangunan infrastuktur secara besar-besaran, Indonesia banyak melakukan kegiatan impor barang bahan baku dan bahan bakar minyak. Hal ini juga diikuti dengan banyaknya impor barang konsumsi sebagai konsekuensi dari semakin meningkatnya golongan menengah di Indonesia.

Sementara itu, ekspor Indonesia masih banyak mengandalkan barang komoditi yang harganya rentan terhadap gejolak ekonomi dunia. Alhasil, Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan selama beberapa tahun terakhir. Selama ini, defisit transaksi berjalan Indonesia tersebut dapat dikompensasi oleh surplus dari capital account. Namun dengan banyaknya capital outflow ke Amerika Serikat, sejak semester dua 2018, defisit tersebut tidak bisa ditalangi lagi. Hal inilah yang menyebabkan nilai rupiah semakin melemah, karena pasokan USD semakin kurang sebagai akibat defisit.

Pemerintah tentu saja tidak tinggal diam, tetapi merespons melalui berbagai kebijakan. Untuk mengurangi impor BBM, pemerintah melaksanakan kebijakan pemakaian 20 persen bahan bakar diesel melalui bahan bakar nabati atau yang dikenal dengan istilah B20. Untuk mengurangi konsumsi, pemerintah menaikkan pajak pada 1.147 jenis produk yang dianggap kurang produktif guna menurunkan pemakaian barang tersebut.

Untuk meningkatkan pariwisata, yang merupakan ekspor jasa pada capital account, pemerintah terus membangun fasilitas kawasan pariwisata di destinasi utama pariwisata. Pemerintah juga terus berusaha meningkatkan ekspor melalui optimalisasi peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dalam pembiayaan dan asuransi ekspor. Semua kebijakan tersebut terus dipantau dan dievaluasi hasilnya. Dari semua kebijakan tersebut, peningkatan ekspor lebih diutamakan daripada melarang atau menurunkan impor.

Pemerintah senantiasa berusaha agar perekonomian Indonesia dapat bertahan di tengah gejolak yang terjadi di dunia. Yang terjadi pada defisit transaksi berjalan adalah pengaruh dari suatu kondisi eksternal yang membuat seluruh dunia terguncang. Segala upaya melalui bauran kebijakan dari sisi makro dan fiskal diharapkan dapat menjadi sabuk pengaman bagi Indonesia. Pemerintah juga akan terus mengevaluasi kebijakan tersebut dan akan terus menyesuaikan diri sehingga dapat mencapai kondisi yang stabil.

Oleh Nufransa Wira Sakti, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi

*) Artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan pada Media Keuangan 2018 Kementrian Keuangan RI, Edisi November.