Pertumbuhan Ekonomi Global

Pertumbuhan Ekonomi Dunia Bagian II

Perekonomian Eropa tumbuh terbatas.

Pertumbuhan ekonomi Eropa tercatat sebesar 1,2% (yoy), stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya (Grafik 2.4).

Grafik 2.4. Pertumbuhan Ekonomi Eropa

Pertumbuhan ekonomi Eropa ditopang oleh perbaikan ekspor yang terutama terjadi pada barang antara (intermediate goods) dan barang konsumsi (consumer goods). Perbaikan perekonomian Eropa turut didukung oleh kebijakan ekspansif European Central Bank (ECB) yang mendorong penyaluran kredit dan pada akhirnya mendukung perekonomian. Perbaikan perekonomian Eropa juga terlihat dari produksi dan konsumsi Jerman yang masih solid.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Dunia Bagian I

Inflasi Eropa sedikit meningkat didorong oleh harga energi.

Inflasi IHK pada Desember 2019 tercatat sebesar 1,3% (yoy), meningkat dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 1,0% (yoy)-(Grafik 2.5). Kendati demikian, realisasi inflasi tersebut masih jauh di bawah target ECB sebesar 2%. Peningkatan inflasi terutama disebabkan oleh inflasi energi, setelah sebelumnya mengalami deflasi selama 4 bulan berturut-turut. Sementara itu, kelompok inflasi makanan (termasuk alkohol dan tembakau), barang industri non-energi, dan jasa relatif stabil.

Grafik 2.5. Inflasi Eropa
Perekonomian Jepang membaik didorong oleh konsumsi.

Pertumbuhan ekonomi Jepang pada triwulan III 2019 tercatat sebesar 1,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan sebelumnya sebesar 0,9% (yoy)-(Grafik 2.6). Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi didorong oleh peningkatan konsumsi akibat frontloading pembelian barang konsumsi tahan lama (durable goods) sebelum penetapan kenaikan pajak konsumsi pada 1 Oktober 2019.

Grafik 2.6 Pertumbuhan Ekonomi Jepang

Di sisi lain, phase 1 trade deal AS-Tiongkok terindikasi tidak banyak mempengaruhi perekonomian Jepang. Investasi Jepang masih dalam tren melambat sebagaimana tercermin dari hasil survei Tankan yang menunjukkan penurunan investasi baik di sektor manufaktur dan nonmanufaktur. Di sisi sektoral, kinerja sektor manufaktur masih terkontraksi, sebagaimana terlihat dari indikator manufacturing PMI yang masih menurun.

Inflasi Jepang masih di bawah target.

Inflasi IHK Jepang pada November 2019 tercatat sebesar 0,5% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan dengan inflasi pada periode sebelumnya sebesar 0,2% (yoy)-(Grafik 2.7).

Grafik 2.7. Inflasi Jepang

Kenaikan inflasi bersumber dari harga komoditas durable goods maupun non-durable goods yang meningkat seiring dengan mulai berlakunya pajak konsumsi per 1 Oktober 2019. Kenaikan inflasi tersebut diprakirakan akan berlanjut hingga 2020, kendati masih berada pada level di bawah target Bank of Japan (BoJ) sebesar 2%.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok berpotensi lebih tinggi.

Phase 1 trade deal AS-Tiongkok mendukung kepercayaan bisnis. Investasi swasta terindikasi mulai membaik pada akhir triwulan IV 2019. Respon kebijakan fiskal dan moneter Tiongkok juga menahan perlambatan konsumsi lebih dalam. Kontraksi ekspor masih berlanjut namun terdapat indikasi perbaikan seiring dengan stabilisasi manufaktur global.

Sementara itu, impor mulai mengalami ekspansi pada November 2019, didukung oleh peningkatan permintaan menjelang akhir tahun. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan IV 2019 tercatat sebesar 6,0% (yoy)-(Grafik 2.8), stabil dibandingkan dengan
https://tradercantik.com/pertumbuhan-ekonomi-dunia-bagian-i/ triwulan sebelumnya.

Grafik 2.8. Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok
Inflasi Tiongkok masih dalam tren meningkat.

Pada Desember 2019, inflasi IHK Tiongkok tercatat sebesar 4,5% (yoy), stabil dibandingkan dengan inflasi periode sebelumnya-(Grafik 2.9).

Grafik 2.9. Inflasi Tiongkok

Inflasi yang tinggi tersebut ditopang oleh inflasi kelompok makanan yang masih melanjutkan tren peningkatan. Inflasi makanan karena keterbatasan stok daging babi lokal dan impor yang tidak mencukupi tersebut, diprakirakan masih akan berlanjut hingga awal 2020. Sementara itu, inflasi inti tercatat rendah dan stabil sebesar 1,4% (yoy), seiring dengan permintaan yang belum kuat.

Sumber: Bank Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *