Tinjauan Kebijakan Moneter Juli 2019 Bagian III

Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) dipublikasikan secara bulanan oleh Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG), berikut isi lanjutan mengenai TKM Juli 2019:

Tinjauan Kebijakan Moneter Juli 2019 Bagian III

Tinjauan Kebijakan Moneter Juli 2019 Bagian I
Tinjauan Kebijakan Moneter Juli 2019 Bagian II

Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, disertai dengan cukupnya ketersediaan likuiditas dan membaiknya risiko kredit

Ketahanan perbankan yang baik ditandai rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Mei 2019 yang tetap tinggi yakni 22,3%, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang tetap rendah yakni 2,6% (gross) atau 1,2% (net). Likuiditas perbankan juga terjaga antara lain tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 18,5% pada Mei 2019, meskipun menurun dari 20,2% pada April 2019. Fungsi intermediasi tetap memadai dimana pertumbuhan kredit pada Mei 2019 tercatat 11,1% (yoy), stabil dibandingkan dengan pertumbuhan kredit April 2019.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Mei 2019 sebesar 6,7%, sedikit meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan April 2019 sebesar 6,6%. Efisiensi perbankan juga baik tercermin pada rasio biaya operasional dan pendapatan operasional Mei 2019 yang tetap rendah pada level 81,71%. Sementara itu, kinerja korporasi go public  tetap baik ditopang kemampuan membayar yang terjaga.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus melakukan kebijakan makroprudensial akomodatif untuk mendorong peningkatan kredit sejalan dengan siklus kredit yang berada di bawah level optimum. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit perbankan 2019 berada pada kisaran 10-12% (yoy) dan DPK dalam kisaran 8-10% (yoy).

Kelancaran sistem pembayaran tetap terpelihara, baik dari sisi tunai maupun nontunai

Dari sisi pembayaran tunai, posisi Uang Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 1,4% (yoy) pada Juni 2019, tumbuh lebih rendah dari periode sebelumnya. Sistem pembayaran nontunai baik nilai besar (RTGS) maupun nilai kecil (SKNBI) berjalan lancar. Sementara itu, transaksi masyarakat menggunakan ATM-Debit, Kartu Kredit dan Uang Elektronik (UE) pada Mei 2019 tumbuh sebesar 22,6% (yoy), didominasi oleh instrumen ATM-Debit dengan pangsa 94,4% yang tumbuh 21,6% (yoy).

Transaksi UE terus tumbuh secara signifikan mencapai 262,6% (yoy). Transaksi daring (online) via digital banking membukukan pertumbuhan yang sedikit meningkat dibandingkan bulan lalu, mencapai 34,5% (yoy). Kinerja positif uang elektronik dan digital banking sejalan dengan menguatnya preferensi masyarakat dalam bertransaksi menggunakan platform teknologi finansial (tekfin), e-commerce, dan uang elektronik pada sektor transportasi. Ke depan, Bank Indonesia terus meningkatkan peran sistem pembayaran dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia akan terus berkontribusi positif pada percepatan transformasi ekonomi keuangan digital Indonesia; mendorong perluasan program elektronifikasi, khususnya untuk penyaluran bantuan sosial (Bansos), integrasi moda transportasi, dan transaksi Pemda sebagai upaya peningkatan efisiensi dan peningkatan kapasitas perekonomian; serta mendorong transformasi UMKM ke arah aplikasi platform pembayaran, keuangan dan perdagangan digital. Bank Indonesia juga tengah mempersiapkan Mutual Evaluation FATF (Financial Acton Task Force) tahun 2020 sebagai bagian dari Rencana Aksi Strategi Nasional 2019 dalam memitigasi risiko Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) di area sistem pembayaran.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *